Garap Online Learning, Justru Dicari Orang Tua Murid

 

Perjuangan Arek Suroboyo, Cici Esti Nalurani, yang Bertahan di Tengah Pandemi 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Bila melihat data terakhir yang dikeluarkan ADA Indonesia, sebuah perusahaan bergerak dibidang data dan artificial intelligence (AI), menganlisis adanya perubahan konsumen akibat pandemi Covid-19 ini. Bahkan, ada beberapa bisnis di tengah pandemi Covid-19 ini berkembang pesat dan mampu meningkatkan valuenya. Diantaranya di sektor pendidikan berbasis online, seperti yang dialami salah satu arek Suroboyo, yang mampu berkembang ditengah pandemi, dengan bisnis startup pendidikannya, yakni Think Indonesia.

Think Indonesia, merupakan sarana pendidikan dengan 3 program,  yaitu THIS, THAT, dan TIPS ini dirintis oleh arek suroboyo jebolan SMP Negeri 6 dan STIKOM Surabaya serta pernah menjadi seorang jurnalis TV swasta, Esti Nalurani. Esti sendiri selain pendiri, juga sebagai CEO Think Indonesia.

Bagi Cici, sapaan Esti Nalurani, pada sebelum masa pandemi seperti ini, Think Indonesia juga sudah memfokuskan dan mengarahkan pada belajar online atau online learning. “Bagi kami, bahkan di dalam Think Indonesia, sudah kami terapkan lebih dulu bagaimana belajar online atau online learning itu. Bahkan, tak menutup kemungkinan, rencana full online learning system bisa diberlakukan pada tahun 2021,” kata Esti Nalurani, kepada Surabaya Pagi, Selasa (16/6/2020). Namun ia berpendapat hal tersebut perlu terlaksana dengan lebih cepat akibat pandemi yang membuat para pengajar dan anak didiknya tidak bisa bertatap muka.

 

Tidak PHK Karyawan

Meski begitu, selama pandemi Covid-19 di Indonesia dalam tiga bulan terakhir, Cici menjelaskan bila tidak ada pemutusan hubungan kerja dibawah naungannya. Ia mengaku bila telah merekrut beberapa karyawan untuk membantunya dalam metode yang ciptakan. "Alhamdulilah, kami tidak ada mem PHK karyawan. Kami malah menambah 8 karyawan dan 4 karyawan yang fokus bekerja  dari rumah," terangnya.

Pada masa pandemi seperti ini pun, Cici menjelaskan bila sudah banyak orang tua yang menanyakan tentang bagaimana pendaftaran untuk murid baru di Think Indonesia yang ia pimpin.

"Jujur memang banyak yang mau mendaftarkan anak-anaknya, namun ini masih menunggu instruksi sesuai protokol kesehatan. Karena kami juga harus memberikan pengertian kepada orang tua terlebih dahulu" pungkasnya.

Cici sendiri menuturkan, di dalam Think Indonesia, ia berusaha membangun pendidikan karakter demi membantu anak-anak untuk menentukan masa depannya sendiri.

"10 tahun kemarin, saya mencoba membantu dan mengubah anak-anak untuk berani menentukan pilihan dengan membuat PT Tokoh Indonesia Muda Eksekutif. Disini kami berperan tidak hanya untuk anak-anak tetapi juga mendampingi orang tua," ungkap Cici kepada Surabaya Pagi.

Ia juga memilih sistem management terbuka dengan melakukan diskusi dengan mendampingi  orang tua sebelum anak didiknya bertatap muka dengan pengajar. "Kami juga memiliki sistem management terbuka dengan berdiskusi dengan mendampingi  orang tua. Jadi kami berkomunikasi dengan orang tua dan anak-anak. Kami edukasikan bila anak-anak dibawah usia 13 tahun maka seluruh aplikasi masih dibantu dan dibimbing oleh orang tua juga." Jelas wanita kelahiran 4 April 1982 yang juga founder New Generation Development (NGD) Program ini.

Selama ini, Think Indonesia, menjadikan Pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang diperuntukkan bagi anak usia 07 tahun - 18 tahun (SD-SMP - SMA) yang memiliki konsep Homeschooling dan berbasis entrepreneurship.

Selain itu, startup yang didirikan Cici ini, juga memiliki sebuah program  yang menyelenggarakan webinar, workshop, Kursus dan training untuk Perseorangan, Kelompok, Public & Company. Selain juga memberikan fasilitas untuk memperoleh sertifikasi resmi seperti Coach professional, motivator, hingga praktisi NLP. byt

surabayapagi.comtidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Back to Top