Terminal Kedung Cowek Mangkrak Kayak Jembatan Suroboyo

08 November 2020 : 21:51:15

Kondisi Terminal Kedung Cowek sejak Sabtu (7/11/2020) dan Minggu (8/11/2020), tampak sepi dan tak ada aktivitas terminal angkutan umum. SP/Septyan Ardiyanto

 

Proyek yang Dibangun dengan Dana APBD tahun 2010 Sebesar Rp 13 Miliar, kini Dijadikan Lahan Parkir Bus Plat Merah Pemkot. Wali kota Risma, Diam saja

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Setelah temukan Jembatan Suroboyo Kenjeran mangkrak, tim wartawan Surabaya Pagi juga dapati Terminal Kedung Cowek  di Jalan Tambak Wedi Nomor 2 Surabaya, yang juga serupa. Terminal yang berada di sebelah selatan Jembatan Suramadu dan sebelah utara Kantor Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS), kondisinya “mengenaskan”. Wajah sebuah terminal yang dibangun era Wali Kota Risma, sudah tak bisa sumbang retribusi untuk PAD Pemkot Surabaya. Padahal Terminal Kedung Cowek, yang dibangun pada tahun 2010 dengan anggaran Rp 13 Miliar, merupakan Terminal penumpang tipe C, yang khusus melayani kendaraan umum angkutan perkotaan atau perdesaan. Menurut warga sekitarnya, sudah satu tahun terakhir ini, Terminal Kedung Cowek berubah menjadi parkir kendaraan-kendaraan pelat merah milik Pemkot Surabaya. Peruntukan ini dikritisi tidak sesuai dengan rencana kerja Pemkot Surabaya dan Dinas Perhubungan Kota Surabaya saat itu. Komisi C DPRD Surabaya juga sudah tahu dan mengagendakan akan mempersoalkan serius, karena terminal ini dibangun dengan uang rakyat. Dan wali kota Risma, sampai November 2020 ini masih mendiamkan.

Dari pantauan harian Surabaya Pagi dan SURABAYAPAGI.com, sejak Sabtu (7/11/2020) hingga Minggu (8/11/2020), Terminal Kedung Cowek, terminal dengan luas lahan 6.278 m2 dan luas bangunan 5.000 m2 terlihat tak seperti Terminal tipe C kebanyakan. Sepi, tak ada angkutan umum yang ngetem mencari penumpang apalagi.

Namun, mirisnya, dalam pantauan tim wartawan harian kita ini, Terminal Kedung Cowek hanya dijadikan “parkir” kendaraan-kendaraan pelat merah. Seperti bus sekolah milik Dinas Perhubungan Kota Surabaya, beberapa bus Suroboyo yang terlihat masih kinyis-kinyis, beberapa colt diesel milik Dishub. Serta ada bus sumbangan Mayapada yang beberapa kali dipakai mengangkut para tamu kehormatan dari luar negeri yang pernah berkunjung di Surabaya.

Padahal, bangunan terminal Kedung Cowek terlihat megah, dan tampak baru. Beberapa cat bangunan pun terlihat masih apik meski warna sudah agak memudar.

Gerbang akses keluar masuk di terminal itu pun, dalam dua hari kemarin, tertutup rapat. Tidak ada aktifitas apapun di dalam terminal tersebut, hanya nampak beberapa bus milik dinas perhubungan dan bus Surabaya milik Pemkot Surabaya  yang terparkir didalam area.

Menurut Ahmad, salah satu petugas kebersihan terminal Kedung Cowek, terminal tersebut saat ini sudah tidak difungsikan sebagai terminal umum sejak bulan November tahun 2019 lalu.

"Saya sulit jelaskan nya mas, nanti takut salah. Pada intinya terminal ini sudah dijadikan garasi bus Surabaya dan bus sekolah milik dishub, bukan terminal lagi," ujar Ahmad saat ditemui di depan terminal (8/11/2020).

Ahmad menambahkan, untuk pihak pengelola Terminal Kedung Cowek yang saat ini menjadi garasi milik Pemkot Surabaya, Sabtu-Minggu juga libur. "Untuk pengelola atau kepala terminal ya gak ada mas. Libur," imbuhnya.

Sedangkan menurut Rodiah, warga yang samping terminal Kedung cowek menjelaskan, dari dulu dirinya tidak pernah melihat ada angkutan umum seperti angkutan umum, bemo yang masuk kedalam terminal.

"Memang selama ini saya tidak pernah melihat adanya angkutan umum seperti bemo yang masuk sini, hanya Bus Surabaya milik pemerintah dan mobil colt diesel warna kuning ini," kata Rodiah.

 

Akses Masuk Jauh

Sementara, dari pantauan sejak Sabtu Siang, beberapa angkutan umum atau bus, lebih banyak memarkirkan kendaraannya untuk mencari penumpang yang baru saja turun dari bus dari Madura di pinggir jalan.

Seperti yang diungkapkan sopir angkutan yang enggan namanya dipublis ke media. Ia menjelaskan, sudah lama, ia enggan masuk ke Terminal Kedung Cowek karena susahnya akses masuk. Sehingga kesulitan mencari penumpang.

“Sebelum sekarang jadi parkir itu, dari dulu wis susah mas. Aksesnya muter dan sempit. Lagian penumpang juga males masuk,” jelas sopir tersebut.

Menurutnya, untuk masuk ke dalam Terminal Kedung Cowek, harus putar balik ke arah sebaliknya. Yaitu, arah Surabaya–Madura melalui terowongan Jembatan Suramadu. Bahkan cukup jauh, sekitar 2 kilometer.

Karena itulah, para supir memilih jalan pintas. Yaitu, menurunkan penumpang di sepanjang Jalan Kedung Cowek. Tepatnya pada pertigaan Jalan Nambangan atau depan Taman Kalikedinding.

Para penumpang tak keberatan diturunkan di sana. Bahkan, mereka lebih merasa nyaman daripada harus turun di Terminal Kedung Cowek.

 

Masih Digelontor Operasional

Sementara anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya Imam Syafi’i  menyoroti keberadaan Terminal Kedung Cowek yang sepi. Dia menyesalkan aset pemkot yang dibangun megah tapi tidak berfungsi sesuai dengan rencana kerja awal.

“Bangunannya bagus, seharusnya dari dulu pemkot ‘memaksa’ agar angkutan bisa masuk. Kenapa tidak dilakukan?” tandas dia.

Bahkan, tambah Imam, kini dibuat parkir beberapa bus yang tidak jelas, apakah itu bus angkutan umum atau bus milik Pemkot sendiri.

“Sudah 10 tahun, juga tak jelas fungsinya. Kini malah dipakai parkir bus-bus gak jelas. Padahal tiap tahun juga harus digelontor biaya operasional dari APBD, yang mana juga uang rakyat juga. Setidaknya untuk 14 terminal di Surabaya, termasuk Kedung Cowek itu, dianggarkan Rp 27 Miliar,” tegas pria yang juga mantan wartawan ini kepada Surabaya Pagi, kemarin.

Apalagi, bila tidak digunakan sebagaimana fungsinya, bisa dikatakan korupsi, merugikan keuangan negara. “Nah, apalagi kalau berubah fungsi kayak gini. Gak sesuai dari awal, bisa kena korupsi khan,” jelas Imam.

Senada dengan Imam, anggota DPRD Surabaya lainnya, yakni dari Komisi C Buchori Imron, pembangunan proyek Pemkot sebelum-sebelumnya, banyak dibangun tanpa ada perencanaan dan DED (Detail Engineering Design) yang matang.

“Banyak sekali proyek Pemkot itu tanpa perencanaan dan DED (Detail Engineering Design) yang matang. Seperti Jembatan Suroboyo Kenjeran dan Terminal Kedung Cowek itu,” kata Buchori Imron.

Seperti Terminal Kedung Cowek, Buchori menilai Wali Kota Tri Rismaharini tidak memiliki perencanaan matang setiap pembangunan wilayah. Bahkan, pembangunan terminal telah menyedot APBD Kota Surabaya hingga puluhan miliar namun lagi-lagi tidak memberikan dampak ekonomi pada masyarakat.

 

Klaim Dishub

Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya Irvan Wahyudrajad, pernah mengungkapkan merubah Terminal Kedung Cowek menjadi lahan parkir baru untuk kendaraan.

"Pembangunan kawasan terus jalan di Surabaya Utara, ada perencanaan pembangunan cable car yang terus jalan. Jadi beberapa terminal akan kita kelola tidak hanya fungsi terminal, tapi juga kita gunakan untuk lahan parkir," kata Irvan, kepada Surabaya Pagi, Desember 2018 lalu.

Menurutnya, pembangunan terminal Kedung Cowek di kawasan Tambak Wedi mulanya dilakukan dengan harapan bisa menunjang perkembangan ekonomi di sana yang pesat.

Namun karena nyatanya tidak sesuai rencana dan juga pengusaha angkutan banyak yang kalah dengan angkutan online, maka terminal Kedung Cowek juga tidak optimal.

Meski begitu, Irvan yakin bahwa tidak ada pembangunan fisik yang sia sia. Dengan adanya pengembangan kawasan wisata di Surabaya oleh Pemkot, salah satunya cable car, kawasan itu akan ramai dalam beberapa tahun ke depan.

"Akan bnyak wisatawan yng datang. Maka teminal ini juga akan bisa menjadi kantong parkir kita. Karena kebutuhan parkir di Surabaya juga tinggi," katanya.

Saat itu, Irvan juga tak setuju jika Terminal Kedung Cowek dibilang sepi. “Meski tidak banyak lyn yang masuk, untuk pool mobil yang diderek juga,” katanya. Dia menegaskan Dishub akan tetap mengoperasikan terminal tersebut. Bahkan akan ditambah fungsinya, selain sebagai terminal juga sebagai lahan parkir baru untuk kendaraan.

“Nanti kalau lapangan tembak dan cable car operasional akan ramai. Adanya SDN baru di sampingnya sudah bisa untuk parkir. Semua terminal juga menjadi berfungsi sebagai tempat parkir khusus,” jelasnya. tyn/alq/mbi/cr4/rmc





Berita Terkait