Hari Ini PSEL Benowo Diresmikan Presiden Jokowi

1.500 Ton Sampah Jadi 9 Megawatt Energi Listrik

05 Mei 2021 : 21:31:22

Persiapan PSEL / PLTSa Benowo di Keputih, pada Rabu (5/5/2021) kemarin sebelum diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, Kamis hari ini. SP/Patrick

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang berada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo Surabaya akan diresmikan Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo (Jokowi) Kamis (6/5/2021) hari ini. 

Dari pantauan Surabaya Pagi, Rabu (5/5/2021) kemarin, suasana peresmian PSEL atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo di jaga oleh petugas yang akan memasuki kawasan tersebut akan diresmikan oleh presiden Joko Widodo.

Mulai dari pintu masuk terpasang spanduk serta petugas Dinas Kebersihan Ruang Terbuka dan Hijau (DKRT) terlihat membersihkan jalan menuju TPA Benowo untuk menyambut peresmian PLTS.  

Bahkan, umbul-umbul bendera merah putih pun sudah terpasang sepanjang pintu masuk di area PSEL / PLTSa Benowo.

Aktivitas truk pengangkut sampah keluar masuk membawa sampah yang sebagian dipersiapkan dan langsung dibuang ke tempat pembuangan sampah.

 

Khawatir Bahaya Asap

Menurut salah satu warga penjual makanan, Muhammad Haji yang sering berjualan dikawasan Tempat Pembuangan  Sampah mengatakan adanya peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Sampah tersebut direspon baik.

“Bagus kalo ada pengolahan sampah menggunakan pembangkit listrik. Karena bisa mengurangi sampah yang ada di Benowo tetapi ada bahayanya juga dengan asap hasil pengolahan sampah menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah,” ungkapnya Muhammad sambil berjualan.

Ia menambahkan bahwa pemulung biasa melewati jalan menuju ke TPA untuk mencari sampah. “Jalan ini ramai, orang yang memulung ke TPA. Kini sudah tidak ada lagi, setahun sudah tidak ada,”imbuhnya.

 

Bersih dari Pemulung

Sementara itu, pemulung yang ada dikawasan sekitar TPA Benowo beberapa tempat pengepul sampah tutup tidak beroperasi karena sudah tidak ada kerjaan  di TPA sehingga sebagian pulang kampung.

Beni pencari sampah yang ada di TPA Benowo mengatakan bahwa adanya peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Sampah berpengaruh pada hasil sampah yang didapatkan, sehingga memilah sampah dari hasil kiriman dari mall.

“Pengaruh sih mas, dengan ada pengolahan pembangkit listrik tenaga sampah biasanya mendapatkan bersih 1-2 ton dalam mencari sampah, tentu pendapatan setiap hari juga berkurang,”ucapnya

 

Diresmikan Presiden

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya, Anna Fajriatin menjelaskan, peresmian oleh Presiden Joko Widodo sebagai bentuk pengelolahan sampah menjadi listrik direspon pemerintah pusat.

"Pak Presiden juga ingin melihat secara langsung, jadi mulai dari market-nya. Kemudian ada penjelasan singkat terkait pengolahan sampah menjadi listrik ini, mungkin sebelum masuk ke area tenda atau tempat acara," kata Anna.

Setelah mendapat penjelasan singkat terkait PSEL Benowo, pihaknya kemudian mengajak Presiden menuju lantai 3 dan lantai 6. Di lantai 3 sendiri, Presiden dapat melihat langsung bagaimana proses mesin bekerja mengolah sampah menjadi listrik. "Jadi proses mesinnya itu bagaimana, berapa jumlah tonase-nya, berapa jumlah listrik yang dihasilkan. Jadi bisa kelihatan di dalam layar," ungkap Anna, kepada Surabaya Pagi, Rabu (5/5/2021).

Bahkan, kata Anna, di lantai 3 juga dapat melihat langsung suasana di luar area PSEL. Seperti, bagaimana dump truk bekerja mengangkut hingga menurunkan sampah ke waste pit, sebelum dimasukkan ke dalam mesin turbin untuk proses menghasilkan listrik.

"Nah, bagaimana caranya kita bisa melihat listrik itu. Jadi memang, di situ kan ada cerobong, kalau cerobongnya sudah berwarna putih itu berarti pembakarannya sempurna, dan itu menggunakan teknologi yang ramah lingkungan," jelas Anna.

 

Sejak Tahun 2012 

Ia menjelaskan, bahwa pembangunan PSEL Benowo yang dilakukan pemkot ini, dimulai sejak tahun 2012 dengan menggandeng kerjasama PT. Sumber Organik (SO). Dari sumber Surabaya Pagi, PT SO itu sendiri pada saat berdiri dan ditunjuk sebagai pemenang pengelolaan sampah, diduga melibatkan Whisnu Sakti Buana dan kakaknya, Jagad Hariseno.

Nah, PT SO sendiri, dalam proses mengolah sampah menjadi listrik masih menggunakan metode Landfill Gas Power Plant.  "Dengan metode ini, PSEL mampu menghasilkan energi listrik 2 Megawatt dari 600 ton sampah per hari," papar dia.

Seiring berjalannya waktu, kemudian di tahun 2015, pemkot yang bekerjasama dengan PT. Sumber Organik ini mulai menggunakan metode Gasification Power Plant untuk mengolah sampah menjadi listrik. Target awalnya, di tahun 2020 melalui metode ini sudah dapat mengolah sampah menjadi listrik. Namun, karena adanya pandemi Covid-19, sehingga proses komisioning atau pengujian oleh tim ahli dari luar negeri mundur dilakukan.

"Sebetulnya targetnya tahun 2020, tapi karena kondisi Covid-19 sehingga untuk komisioning dengan mendatangkan tim ahli dari luar negeri ke Indonesia jadi mundur. Alhamdulillah tanggal 10 Maret 2021 kemarin sudah proses. Jadi sudah bisa menghasilkan listrik 9 Megawatt dari setiap 1.000 ton sampah per hari," ungkap dia.

 

BOT 20 Tahun

Ia menyebut, bahwa listrik yang dihasilkan dari pengolahan sampah ini kemudian menjadi kewenangan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sebab, PT SO yang bekerjasama dengan PLN terkait listrik yang dihasilkan tersebut. Sementara pemkot sendiri, bekerjasama dengan PT Sumber Organik dengan konsep 'Bangun Guna Serah' (Build Operate and Transfer) selama 20 tahun.

"Jadi nanti tahun ke 20 atau di tahun 2032, semua (alat) ini menjadi milik pemkot dengan kondisi 85 persen. Artinya, mesinnya, semua peralatan pengolahan sampah ini dalam kondisi baik dan menghasilkan listrik dalam kondisi baik," urai dia.

Secara sederhana, Anna menjelaskan bagaimana metode Gasification Power Plant ini mampu mengolah sampah menjadi listrik. Pertama, sampah yang telah ditimbang akan dimasukkan Waste Pit atau proses pemilahan. Kemudian, sampah itu diayak menggunakan crane seperti capit dan dimasukkan ke dalam Boiler. Nah, di dalam Boiler itulah proses pembakaran dilakukan. Metode ini pun terbilang lebih cepat dibanding sebelumnya Landfill Gas Power Plant.

"Jadi melalui Gasification ini per hari minimal 1000 ton sampah yang diolah menjadi listrik. Dan mesin ini bekerja selama 24 jam tidak berhenti. Tapi memang dalam 1 tahun itu ada beberapa hari masa pemeliharaan, jadi saat itu mesin berhenti tidak beroperasi sama sekali, supaya tidak rusak," kata Anna.

 

Sampah 1.500 Ton  

Saat ini, Anna menyebut, sampah yang dihasilkan Kota Surabaya mencapai sekitar 1.500 ton per hari. Sedangkan jenis sampah yang diolah di TPS Benowo adalah sampah domestik atau rumah tangga. Sementara untuk jenis sampah seperti limbah mebel, diolah kembali di lokasi lain, seperti di galeri milik pemkot. 

“Jadi tidak semua jenis sampah masuk ke sini. Sebelum sampah masuk ke TPA Benowo itu kita pilah-pilah dulu di TPS (Tempat Pembuangan Sampah). Ada sebanyak 190 TPS di Surabaya," kata dia.

Anna menambahkan, bahwa PSEL Benowo ini bakal menjadi pilot project proyek strategis nasional. Sebab, di Indonesia baru pertama kali instalasi pengolahan sampah terbesar menjadi listrik dilakukan. "Jadi ini Insya Allah bakal menjadi pilot project nasional," katanya.

Selain dihadiri Presiden Jokowi, peresmian yang dijadwalkan pada Kamis (6/5/2021), rencananya juga bakal dihadiri beberapa Menteri. Di antaranya, Menteri Sekretaris Kabinet (Menseskab) RI, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) RI, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, hingga Menteri Sosial RI. alq/pat/cr2/rmc





Berita Terkait