Berawal dari Hobi, Kini Jadi Kolektor Ribuan Hot Wheels

11 April 2021 : 10:52:51

Bayu Aji Mariska saat menunjukkan koleksi ribuan hot wheels-nya. SP/ BLT

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Bayu Aji Mariska yang merupakan ASN Dinas Perhubungan ini dulunya sempat berbisnis sampingan berdagang mainan ini sangat hobi dengan mainan hot wheels. Di dalam rumahnya terdapat ribuan hot wheels dari berbagai seri dipajang di dinding. Ia bahkan rela hunting untuk menambah koleksi hingga luar negeri untuk mendapatkan mainan tersebut.

Meskipun, hanya sebatas dari internet. Alasannya sederhana, dia ingin mendapatkan barang yang masih jarang dikoleksi. Belanja jutaan rupiah sudah menjadi hal lumrah. Terlebih pada 2012 hingga 2015, dia bukan hanya sekadar menjadi penghobi hot wheels, melainkan juga memanfaatkannya sebagai komoditas bisnis.

Risiko mengeluarkan uang lebih banyak tidak menjadi persoalan. Sebab, Bayu sangat yakin hal itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan harga jual atau keuntungan setelah mendapatkan barang tersebut. “Harganya pasti beberapa kali lipat jika mainan impor ini dijual. Tapi itu dulu, sekarang kondisinya sudah beda, banyak pemain,” tuturnya.

Menurutnya, satu unit hot wheels seharga Rp 30 ribu bisa menjadi Rp 90 ribu. Karena biaya pengiriman hot wheels dari luar negeri biasanya dua kali lipat dari nilai barang tersebut. Namun karena faktor kelangkaan, nilai jual di dalam negeri bisa mencapai 3 kali lipat dari biaya yang dikeluarkan untuk impor barang tersebut. Dengan begitu, dia tidak pernah rugi. “Sistem penjualannya pakai lelang. Karena barang belum ada, otomatis harganya bagus,” akunya.

Dia tidak menjual mainanan tersebut untuk anak-anak, tapi kepada kolektor atau penghobi hot wheels. Dia tidak membuka toko, tapi memanfaatkan sarana media sosial untuk melelang barang.

Dalam sebulan, omzet penjualannya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Bahkan beberapa tahun kemudian dia bisa membeli aset bangunan.  “Itu bener, sebulan omzet saya bisa sampai Rp 30 juta lho,” bebernyanya.

Sayangnya, bisnis bagus ini tidak bertahan lama. Sekitar tahun 2015, pemerintah mengeluarkan kebijakan khusus terkait standar produk. Aktivitas impor mainan ini pun tidak lagi menjanjikan seperti sebelumnya.

Saat itu juga Bayu beralih profesi. Pegawai Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Blitar ini tidak lagi menjual hot wheels. Sebaliknya, dia berburu koleksi-koleksi baru. Selain karena demen dengan mainan tersebut, menurut dia, hot wheels bisa menjadi barang antik beberapa tahun mendatang. “Mungkin saja kan, semakin lama semakin mahal harganya. Karena kan semakin langka dan terbatas jumlahnya,” jelasnya. Dsy8

 





Berita Terkait