Mahasiswa Undika buat Film Pendek Edukasi Bahasa Isyarat

14 April 2021 : 20:47:05

Salah satu cuplikan film pendek edukasi karya salah seorang mahasiswa Undika. SP/Patrik Cahyo

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Mahasiswa Laurensius Adriel Igo, Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) membuat film pendek tentang cara menghargai tunarungu. Pembuatan film ini sebagai syarat tugas akhirnya selama kuliah tujuh semester jurusan DIV Produksi Film dan Televisi (Profiti).

“Film saya berjudul "Isyaratku" untuk tunarungu. Tujuan saya membuat film ini untuk memperkenalkan bagaimana  Belajar Bahasa Isyarat Kepada seluruh masyarakat,”katanya.

Ia menyampaikan melalui film animasi pendek yang dibuat ini masyarakat lebih peduli dan mengerti latar belakang tunarungu. Akan lebih baik banyak orang yang memahami juga bisa bahasa isyarat agar bisa membantu dan dengan mudah interaksi dengan penyandang tunarungu.

Riel sapaannya menjelaskan membutuhkan waktu kurang lebih dua bulan untuk membuat film animasi pendek ini. Mulanya ide pembuatan tentang belajar Bahasa Isyarat yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya berusaha bagaimana caranya membuat modeling 3D, sampai pada akhirnya kurang lebih selama selama 2 bulan saya mengerjakan nya dengan semua proses yang saya lewati seperti saat proses pembuatan naskah, modeling, dan editing,”ungkapnya.

Riel menyampaikan sempat mengalami kesulitan dalam membuat film animasi ini, yakni pengaplikasian software Blender 3D. Namun kendala tersebut bisa diatasi dengan bimbingan dosen-dosen pembimbing dan juga teman-temannya.

Disamping itu, Wakil Dekan Fakultas Teknologi dan Informatika Undika, Karsam, M.A., Ph.D menyampaikan Riel ini merupakan mahasiswa luar biasa yang tunarungu dan tunawicara. Mahasiswa tersebut memiliki motivasi yang kuat dalam belajar di lingkungan kelas yang berbeda dengannya.

“Dia tekun dan punya daya juang yang luar biasa. Bahkan dia juga lulus dalam waktu 3,5 tahun,” kata Karsam yang juga dosen pembimbing tugas akhir Riel.

Ia menjelaskan bahwa Riel memilih memproduksi film animasi berdurasi 5 menit 37 detik ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat umum agar belajar bahasa isyarat. Dengan tercapainya tujuan tersebut, masyarakat penyandang ABK nanti bisa leluasa, merasa nyaman dan aman saat berinteraksi di lingkungan luar. 

Selain itu, dengan menonton film yang diproduksi Riel, masyarakat diharapkan dapat memiliki rasa empati dan toleransi pada masyarakat yang memiliki kekurangan, khususnya ABK.

Menurut Karsam, karya film animasi Riel terbilang menarik dan cukup bagus. Dengan keterbatasan mahasiswa tersebut ia berhasil menyelesaikan tugas akhirnya yang mengandung pesan penting untuk masyarakat umum.

“Riel bisa membuat naskah sendiri, produksi dan melakukan editing sendiri,” kata dosen di kampus yang dulu bernama STIKOM Surabaya ini.

Film ini berjudul Isyaratku dengan cerita seorang siswa dan siswi sedang mengikuti kegiatan belajar. Dalam ceritanya, siswi yang bernama Maria penyandang tunarungu dan tunawicara. Hal tersebut membuat Moris untuk belajar bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi dengan Maria. Pat





Berita Terkait