Pendapat Pakar Politik Surabaya, Megawati Ketum Parpol Tertua, PDIP Jadul

10 September 2021 : 20:32:14

Ilustrasi karikatur

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Dalam menjalankan roda partai politik (parpol), dibutuhkan mesin kaderisasi yang kuat. Tanpa kaderisasi yang baik, kendati sistem berjalan baik, lambat laut parpol tersebut akan berhenti bergerak. Dan berdasarkan penelusuran Surabaya Pagi, diduga kaderisasi tak berjalan dalam tubuh partai penguasa, PDI Perjuangan.

 Di mana, partai berlambang Kepala Banteng ini dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri yang sudah uzur. Megawati saat ini berusia 74 tahun. Putri Bung Karno ini lahir di Yogyakarta pada 23 Januari 1947. Nenek yang akrab dipanggil Mbak Mega ini diketahui sebagai Ketua Umum Partai tertua di Indonesia.

Megawati memimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sejak 1999. Bahkan, saat partai ini masih bernama Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Megawati tercatat menjadi ketua umum pada 1993.

Di Indonesia, kaderisasi parpol masih terbilang jadul. Dosen bidang politik kreatif sekaligus Ketua Program Studi Magister Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Brawijaya, Wawan Sobari, menyebut istilah kaderirasi parpol saat ini sudah ketinggalan zaman dan mirip era kerajaan.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa parpol seperti Demokrat dan PDIP yang cendrung meneruskan tongkat estafet kepemimpinan ketua kepada keturunannya. Susilo Bambang Yudoyono (SBY) sebagai pendiri, menurunkan posisi ke anaknya Agus Harimurti Yudoyono (AHY).

Selaku ketum, Megawati masih belum memutuskan kepada siapa akan diberikan tongkat estafet. Gimik yang dipertontonkan Bu Mega telah mengarah ke anaknya Puan Maharani.

"Ini sebenarnya sebuah ironi. Sistem pemilu sudah modern, tapi pola kaderisasi masih berbasis biologis. Biologis itu lebih cendrung pada figur, ini keturunan siapa, silsilah-silahnya jelas, itu sebenarnya sudah kita tinggalkan pola-pola kekuasaan seperti ini. Itu kan era kerajaan. Ketika komitmen kita menuju republik, ketika Presiden dipilih MPR maupun 2004 dipilih oleh rakyat, berarti  ironi sekali kan," kata Wawan Sobari kepada Surabaya Pagi, Jumat (10/09/2021).

Proses kaderisasi politik pun harus berjalan sesuai dengan perkembangan zaman. Pun begitu, kader yang disiapkan juga adalah kader yang benar-benar memiliki intigritas, kapasitas serta kapabilitas yang mempuni.

Seharusnya kata Wawan, partai politik yang adalah mesin demokrasi, melakukan kaderisasi berbasis ideologi bukan berbasis biologis. Dalam praktek politik modern, kaderisasi berbasis ideologis banyak dilakukan oleh negara-negara maju, Amerika Serikat salah satunya.

Setidaknya ada indikator penting dalam kaderisasi berbasis ideologis. Pertama, kader dari partai harus memiliki nilai yang sama dengan partai. Berikutnya adalah kader yang telah memiliki track recor di masyarakat. Atau dalam bahasa Wawan Sobari disebut polikal kreator.

Wawan pun mencotohkan, sebelum Kamala Haris mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden dari Partai Demokrat, ia telah memiliki track recor di masyarakat. Khususnya perhatiannya terhadap kesetaran bagi kaum-kaum marjinal kulit hitam.

"Gak ada yang kenal Kamala Harris sebelumnya, dia hanya aktivis bagi kaum marjinal  dan itu platformnya partai demokrat yaitu liberalisme. Kata kunci liberalisme adalah kesetaraan. Jadi itu yang saya katakan sebagai polikal kreator," jelas Wawan.

Keunggulan kreator politik terletak pada kriteria memaksimalkan kearifan, bukan hierarki keputusan atau hubungan biologis. Kreator politik mempertimbangkan kapasitas empati pada problem-problem daerah dan gagasan-gagasan solutif penyelesaian masalah yang tetap memperhitungkan nilai, sejarah, dan kebutuhan kemajuan daerah (konteks).

Oleh karenaya, ia mendorong agar kaderisasi parpol dapat ditinjau dari upaya individu yang telah terbukti bekerja atau memiliki karya yang kontributif bagi masyarakat.

"Jadi dia itu sudah bekerja pada isu-isu dimana itu menjadi ideologi partai," katanya

Ia pun mencontohkan pengkaderan parpol berbasis ideologi di Indonesia. Partai Golkar dengan platform kekaryaannya di bawah kepemimpinan Airlangga Hartanto, saat ini lebih berfokus pada isu-isu ekonomi dan bisnis.

"Ya tinggal dicari, figur-fugur yang berfokus pada bisnis. Jadi nyambung antara ideologi partai dengan figur yang akan dikaderkan," ucapnya.

Ia pun menampik adanya tudingan bahwa kaderisasi berbasis biologis lebih populer di masyarakat dibandingkan ideologi. Dari survey yang dilakukan oleh Institute for Democracy & Strategic Affairs (Indostrategic) pada 3 Agustus 2021 lalu.

Tingkat popularitas Puan Maharani berada pada urutan ke-6 atau 60,8 persen dan tingkat kesukaan 36,0 persen. Angka ini masih kalah jauh dibandingkan dengan Sandiaga Uno sebesar 86,5 persen dan Anies Baswedan dengan jumlah 80,8 persen.

Bahkan ia juga mencontohkan munculnya figur seperti Mardigue Wowiek atau Bosman Sontoloyo yang notabenenya bukan keturunan Soekarno laiknya Puan Maharani.

"Sekarang itu marketing politik sudah canggih mas, popularitas bisa didapat dengan ya itu tadi para politikal kreator dan bukan karena faktor biologis," pungkasnya.sem





Berita Terkait