PON XX Papua, Ajang Perubahan Paradigma Olahraga

14 September 2021 : 09:27:16

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali dalam diskusi virtual Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) yang bertema" Bangun Nasionalisme dan Kebersamaan" di Jakarta, Senin (13/9/2021).

SURABAYAPAGI, Jakarta- Paradigma yang memandang ajang olahraga sebelah mata, harus diubah. Peran dan fungsinya bukan hanya ajang prestasi, tapi lebih besar lagi pembawa dampak positif dan pembentukan karakter atau sikap setiap anak bangsa masyarakat dalam kegiatan sehari-hari.

"Cara pandang kita terhadap tentang olahraga harus berubah seiring dengan berjalannya waktu," ujar Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali dalam diskusi virtual Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) yang bertema" Bangun Nasionalisme dan Kebersamaan" di Jakarta, Senin (13/9/2021).

Gelaran olahraga PON XX Papua membentuk sikap-sikap positif kebaikan yang dapat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat lima sikap yang akan didapatkan oleh setiap individu kala menekuni olahraga dalam jangka waktu tertentu. Antara lain pertama adalah disiplin, kerja keras, sportifitas, kerja sama, dan optimis.

Pertama adalah sikap disiplin yang akan didapatkan kala seseorang menekuni cabang olahraga (Cabor) tertentu. Sikap ini, akan otomatis didapatkan ketika seorang tersebut melakukan latihan atau pembinaan terhadap olahraga tersebut. Sikap ini akan ditanamkan oleh pelatih kepada setiap orang yang dibina untuk Cabor tertentu.

Tujuannya, latihan yang dilakukan dalam kurun beberapa waktu ke depan dapat membuahkan hasil membanggakan di setiap ajang kompetisi. "Jadi dia berusaha dari awalnya bersikap disiplin terpaksa, lama-lama menjadi kebiasaan sehari-hari dan mempunyai karakter kedisiplinan," kata Menpora.

Kedua, olahraga dapat membuat seseorang mendapatkan karakter atau sikap kerja keras. Kondisi dapat dilakukan, karena dalam olahraga setiap individu dituntut melakukan kerja keras untuk mendapatkan hasil optimal dalam pertandingan Cabor. Dengan bekerja keras dalam setiap latihan yang digelar secara rutin dalam beberapa waktu tertentu akan membawa hasil terbaik.Kemudian, bekerja keras dalam setiap laga pertandingan akan membuahkan kemenangan dalam setiap laga kompetisi.

"Karakter kerja keras ini rata-rata dari seluruh atlet itu muncul," imbuhnya.

Ketiga, karakter yang didapatkan sportifitas. Di sini setiap individu yang melakukan olahraga wajib menjunjung tinggi sikap ini dalam setiap kompetisi yang digelar. Menerima kemenangan maupun kekalahan tanpa menimbulkan konflik. Dengan mengaplikasikan sikap ini dalam kehidupan sehari-hari tentunya akan membawa dampak yang positif bagi kehidupan.

"Sportifitas karena itu tidak menjadi roh dalam olahraga. Kalau dia kalah ya dia kalah. Kalau dia menang ya sudah ya dia menang," imbuh Menpora. Keempat, karakter kerja sama. Sikap ini akan terbentuk kala melakukan setiap olahraga dalam kompetisi yang digelar. Kerja sama dibutuhkan dalam mengoptimalkan upaya menang dalam kompetisi di atas. Sikap ini akan terbangun, karena sebaik-baiknya kualitas seseorang individu harus mampu menjalin kerja sama tim. Dengan begitu, kemenangan ketika mengikuti suatu kompetisi akan benar-benar dapat diwujudkan.

"Sehebat apapun dia fisiknya bagus, tekniknya bagus, kerja bagus, tetapi kelebihan tidak bisa bekerja sama tim, maka tim itu akan juga tidak akan berhasil," tutur Menpora.

Terakhir, dalam olahraga akan mengajarkan setiap individu menjadi karakter yang optimis dalam menghadapi setiap tantangan. Rasa optimis dalam mengalahkan tantangan akan membuat keahlian olahraga semakin meningkat secara signifikan. Hal ini, dibuktikan oleh atlet Paralimpiade Tokyo 2020 yang beberapa waktu membawa sembilan medali. Seluruh atlet, memandang bahwa rasa optimis harus dibangun terus menerus tanpa henti, demi mengoptimalkan daya dalam merebutkan setiap medali yang diperlombakan.

"Rasa optimisme boleh ditanya semua tidak ada satupun yang mengatakan kita tidak optimis," pungkasnya.jk03/dd





Berita Terkait