Satpolairud Polres Gresik Musnahkan 9 Jaring Trawl

02 Desember 2021 : 18:33:27

Pemusnahan 9 jaring trawl hasil sitaan di halaman kantor Satpolairud Polres Gresik.

SURABAYAPAGI.COM, Gresik - Satpolairud Gresik memusnakan 9 jaring trawl hasil sitaan dari 8 kasus yang diungkap sepanjang Tahun 2021. Barang bukti itu dibakar di halaman kantor Satpolairud Polres Gresik, Jalan Jalan Martadinata Nomor 9, Kroman, Kemuteran, Kecamatan/Kabupaten Gresik, Kamis (2/12/2021). 

Dari total jumlah BB tersebut, 8 jaring trawl dimusnahkan dan 1 diserahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Gresik. 

“Kami juga memusnahkan 9 alat bukti trawl hasil patroli sepanjang tahun 2021 sebagai efek jera bagi masyarakat dan nelayan,” ungkap Kapolres Gresik, AKBP Mochamad Nur Azis kepada wartawan usai memimpin pemusnahan barang bukti.

Dia menegaskan bahwa jenis jaring trawl merupakan alat tangkap yang dilarang. Karena bisa merusak ekosistem biodata laut.

“Terumbu karang dan anak dan ibu ikan di laut juga kena imbasnya,” sambungnya. 

Untuk itu, pihaknya mengaku akan selalu komitmen memberikan edukasi, sosialisasi hingga peringatan bagi para nelayan yang tetap menggunakan alat tangkap yang dilarang undang-undang tersebut.

“Bagi masyarakat atau nelayan yang masih menggunakan trawl akan kami lakukan penegakan hukum,” jelasnya didampingi Kasatpolairud Polres Gresik, AKP Poerlaksono. 

Selanjutnya diungkapkan dari hasil penangkapan nelayan yang melanggar sudah mengamankan beberapa pelaku. Antara lain nelayan dari Campurejo, Panceng, dan daerah lainnya. 

Salah satu nelayan yang hadir saat pemusnahan BB, Muhammad Samsul mengaku telah mengapresiasi kinerja Satpolairud sebagai keamanan laut (Kamla). Di Perairan Gresik hanya beberapa wilayah yang masih banyak menggunakan jaring trawl. 

“Paling banyak di Perairan Gresik Utara, Desa Campurejo Panceng, Karang Tumpuk Panceng, Ujungpangkah,” ungkapnya. 

Kendati demikian, tapi lahan mata pencaharian nelayan di wilayah pesisir Kota Gresik yang meliputi tiga kelurahan (Pekalingan, Kroman, dan Lumpur) telah dipersempit area tangkap. Sebab ada batasan mencari ikan akibat banyak pelabuhan industri yang berdiri di Gresik. 

“Dengan begitu kami memanfaatkan peluang yang ada, banyak dari nelayan sekitar sebagai taksi air di Selat Madura. Melayani ABK yang bersandar, kemudian diantar ke daratan dan kembali ke kapal,” ujarnya.

 

 





Berita Terkait