Sukses Ekspor Kopi Luwak di Berbagai Negara

02 Mei 2021 : 10:05:08

Meigik Sugiharto dengan luwak peliharaannya. SP/ TRG

SURABAYAPAGI.com, Trenggalek - Meigik Sugiharto yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di lingkup Pemkab Trenggalek disela kesibukannya ia juga membuat kopi luwak yang ia tekuni hingga 20 tahun lamanya. Pasalnya, dia melibatkan petani kopi lokal dalam menyetok biji kopi yang digunakan.

Sebagai pembuat kopi luwak, dirinya juga ingin menciptakan ekosistem bisnis di wilayahnya. Itu terbukti selain kopi yang didapat dari para petani lokal, dirinya juga menanam berbagai tanaman seperti pisang dan pepaya untuk makanan luwak. Sebab, selain kopi merupakan tumbuhan musiman, jika satu hari saja hanya diberi makan kopi luwak bisa keracunan, Minggu (2/5/2021).

Selain memiliki harga tinggi dengan cita rasanya yang lembut, kopi luwak ini juga bersahabat dengan jantung maupun lambung. Sehingga kopi jenis ini sudah banyak diekspor ke berbagai negara.

Bermula dari pemberian makan biji kopi yang benar-benar matang di pohon dengan warna merah cerah kepada luwak. Sebab, dalam proses ini hewan luwak memiliki naluri sendiri untuk memakan biji kopi yang benar-benar matang. Setelah itu, ditunggu sekitar tiga jam, luwak akan menghasilkan feses atau kotoran yang di dalamnya terdapat biji kopi yang sudah mengelupas dari kulitnya. Sebab, pencernaan luwak tidak bisa memproses biji kopi tersebut sehingga keluar masih dalam bentuk utuh.

Setelah itu, barulah kotoran luwak yang terdapat biji kopi dijemur. Selanjutnya, kotoran luwak yang telah kering tersebut disimpan dalam wadah dan siap ditunjukkan jika ada yang ingin membelinya dalam bentuk masih kotoran. Ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan para konsumen. Sebab, jika dijual dalam bentuk sudah menjadi bubuk, para konsumen akan meragukan keasliannya.

Barulah biji kopi yang sudah dibersihkan dijemur hingga kelembapannya mencapai 12 persen. Setelah kering, biji dikupas menggunakan alat pengupas dan selanjutnya digoreng dengan sistem sangrai. Proses penggorengan tidak boleh terlalu gosong, hanya cukup berwarna kekuningan atau aroma harum keluar. Agar cita rasa kopi semakin sempurna, proses pembakaran menggunakan arang dari batok kelapa. Setelah itu, barulah kopi ditumbuk.

Dengan proses seperti itu, konsumen tak ragu membeli kopi luwak buatannya karena dipastikan keasliannya. Bahkan, konsumen dari berbagai negara seperti Denmark, Makau, dan sebagainya tak canggung untuk datang langsung guna membeli kopi luwak buatannya.

Untuk harga, dirinya mematok harga pasar, sekitar Rp 1,5 juta per kg dalam bentuk bubuk. Kendati demikian, juga ada beberapa konsumen yang memilih membeli kopi luwak masih dalam bentuk kotoran. Dsy4





Berita Terkait